INFO
  •  Ingat selalu pesan ibu !!! Pakai masker, mencuci tangan pakai sabun & jaga jarak  

Ancaman African Swine Fever di Kabupaten Sabu Raijua

Rabu, 3 Maret 2021

Syah Balich "549 ekor babi sudah menjadi korban AFC tetapi tidak berbahaya bagi manusia".

        Ancaman African Swine Fever(AFC) atau demam babi africa adalah penyakit pada babi yang sangat menular, dan dapat menyebabkan kematian pada ternak babi hingga 100%. Dikatakan Sekretaris Dinas Pertanian Dan Pangan  Kabupaten Sabu Raijua, Ir.Putrasyah Balich,M.Si, disela-sela saat pra musrenbangcam sabu tengah(3/3).  Menurutnya pada tahun 2020 sebanyak 549 ekor babi masyarakat di kabupaten sabu raijua mati karena diserang AFC. Lebih lanjut, jelas Syah Balich kejadian AFC secara resmi telah tertuang dalam Keputusan Menteri Pertanian No.820/KPTS/PK.320/M/12/2019 tentang Pernyataan Wabah Penyakit Demam Babi Africa(AFC) pada beberapa Kabupaten/ Kota di Provinsi Sumatera Utara. Di NTT sendiri AFC disinyalir penularannya dari Timor Leste pada akhir 2019. Dan saat ini di hampir sebagian besar kabupaten/kota di provinsi ntt telah terjangkit virus AFC itu. Virus AFC sangat tahan hidup di lingkungan dan juga terhadap pengaruh lingkungan, bahkan relatif lebih tahan terhadap disinfektan bahkan, dapat tahan dalam darah pada kondisi suhu 4 derajat celsius selama 18 bulan, dan dalam daging dingin selama 15 minggu, dalam daging beku selama beberapa tahun, dalam ham selama 6 bulan serta dalam kandang babi selama satu bulan. Jelasnya lagi, Virus AFC bukanlah penyakit yang menular dari hewan kemanusia, karna itu, produk daging babi tetap aman untuk dikonsumsi oleh manusia. 

        Dia pun mengutarakan tanda-tanda klinis AFC pada babi, yakni: Kemerahan pada bagian perut, telinga, dada dan scrotum; diare berdarah, cenderung berkumpul bersama, demam tinggi mencapai 42 derajat celcius, kejang, kadang-kadang muntah, diare atau sembelit, mengalami abortus pada babi bunting, pendarahan kulit, warna kulit kebiruan, babi menjadi tertekan, telentang kesulitan bernafas, tidak nafsu makan, dan kematiannya biasa terjadi dalam 5-10 hari setelah munculnya gejala klinis tersebut, bahkan angka kematian dapat mencapai 100%, dan terkadang kematian terjadi sebelum tanda klinis dapat diamati, ujarnya.

        Masih menurut putra, babi yang telah sembuh dari infeksi sebenarnya masih tetap berpotensi terinfeksi ulang meskipun tidak menampakan gejala klinis berstatus terinfeksi, dan infeksi berkelanjutan ini dapat berlangsung lama. Kaitannya dengan cara penyebaran virus AFC dapat menyebar melalui beberapa cara, seperti: Kontak langsung, serangan penghisap darah(caplak), pakaian pekerja kandang, peralatan peternakan, kendaraan, pakan yang terkontaminasi. 

      Tindakan Pencegahan dan pengendalian, selanjutnya jelas Balich, sampai saat ini belum ada vaksin untuk mencegah penyakit ASF karena itu, cara pencegahan dan pengendalian dapat dilakukan antara lain:

1.mencegah lalulintas media pembawa Virus ASF dengan cara,

  • Tidak menjual babi/ karkas yang terkena penyakit ASF serta tidak mengkonsumsinya
  • Isolasi babi yang terkena penyakit ASF dan peralatannya serta dilakukan pengosongan kandang selama 2 bulan.
  • Babi yang mati karena penyakit ASF dimasukan kedalam kantong dan harus segera dikubur oleh petugas untuk mencegah penularan yang lebih luas.

2.penerapan biosekturi dan manajemen peternakan  babi yang baik anatara lain dapat dilakukan dengan: -. Menjaga kesehatan babi dengan memberikan pakan yang baik, jangan berikan pakan babi dengan sisa makanan babi dari restoran/hotel, jika menggunakan makanan sisa restoran/  hotel makan harus dimasak mendidih terlebih dahulu sekurang-kurangnya satu jam agar bebas dari virus ASF, menjaga kebersihan kandang, memisahkan babi sakit dengan babi sehat, tidak mengizinkan orang lain bebas keluar masuk bebas ke dalam peternakan babi, mencelupkan  alas kaki atau sepatu kandang dalam desinfektan sebelum memasuki kandang babi, senantiasa mencuci tangan dengan sabun sebelum masuk kedalam kandang babi dan stelah keluar dari kandang babi, jika menemukan babi yang sakit, segera hubungi petugas kandang dalam dari dinas yang membidangi kesehatan hewan atau dokter hewan atau paramedis diwilayah terdekat.

3.pengawasan yang ketat dan intensif untuk daerah yang beresiko tinggi, Biosekuriti adalah sebuah tindakan yang merupakan pertahanan pertama untuk pengendalian wabah dan dilakukan untuk mencegah semua kemungkinan penularan/ kontak dengan ternak tertular agar dapat diminimalkan.


Simpan sebagai :

Berita terkait :

«

Desember 2021

MggSenSelRabKamJumSab
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31