Tekstil
Tekstil yang terdapat di Sabu merupakan bentuk ikat yang berarti tehnik ikat-celup guna mendapatkan sebuah pola (lihat kiri). Menenun merupakan refleksi penting dari peran tradisional para wanita di masyarakat, khususnya dalam garis keturunan ibu, dan ini sudah berjalan semenjak awal sejarah Sabu. Tidaklah mungkin kita dapat mengerti arti dari tekstil Sabu tanpa mengetahui struktur sosial unik dari pulau ini.

Asal-usul mitos dua kakak beradik perempuan
Berdasarkan silsilah-mantra rahasia dan keramat pulau ini, dua kakak beradik Muji Babo dan adiknya Lou Babo membentuk dua moiety atau bagian yang disebut hubi ae, atau ‘Bunga Palem Besar’ dan hubi iki, atau ‘Bunga Palem Kecil’. Di narasi ini pembagian masyarakat menjadi dua grup adalah hasil dari perkelahian antara dua kakak beradik perempuan tersebut yang diawali dari perebutan pewarna nila dan ketrampilan menenun terbaik. Konsekuensinya, pernikahan antar kedua moiety ini dilarang. Dan larangan ini berlangsung dua sampai tiga generasi ketika orang-orang mulai memeluk agama Kristen. Inilah bagaimana tenunan ikat memiliki peran penting sebagai ‘KTP kuno’ pendahulu. Tradisi ini telah berlangsung berabad-abad dan masih dikenal oleh pengikut agama leluhur, Jingi tiu.

Pola dasar tiap moiety

Dalam budaya Sabu seorang pria harus menikah dengan wanita dari garis keturunan yang sama dengan ibunya dan neneknya. Maka komposisi dan pola yang ditampilkan pada sarung perempuan (èi) dapat membedakan dengan jelas perempuan Hubi Ae (Bunga Besar) dan perempuan Hubi Iki (Bunga Kecil). Pola ini didapatkan dari tehnik ikat-celup yang diaplikasikan pada benang lengkung sebelum menenun.


Motif dasar Hubi Iki (kiri) dan Hubi Ae (kanan)
Sarung dari grup Bunga Besar (Hubi Ae) menunjukkan pita nila biru yang berkaitan dengan pita motif ikat (7 pita nila sempit per setengah potong). Sedangkan sarung Bunga Kecil (Hubi iki) memiliki pita lebih besar berwarna nila lebih gelap (4 pita nila per setengah potong) dan juga berkaitan dengan pita motif ikat. Kedua jenis sarung memperlihatkan sebuah pita besar bermotif khas grup masing-masing.

Motif utama sarung Bunga Besar (Hubi Ae) adalah bersudut dan geometris terdiri dari tiga pastiles (bentukan belah ketupat) yang disebut wokelaku. Sedangkan motif utama sarung Bunga Kecil (ledo) adalah garis yang berombak-ombak dan lebih sulit untuk dibentuk melalu proses ikat. Tenunan Hubi Ae bernuansa warna lebih terang daripada nuansa warna Hubi Iki, terutama untuk para anggota keluarga Hubi Iki yang nilanya hampir berwarna kehitaman. Jumlah pita polos, disebut roa, dan jenis-jenis motif yang ada menjadi sangat penting dalam perbedaan dan identitas penanda kain di Sabu.

Dalam perjalanan waktu, setiap moiety (Hubi) membentuk sub-kelompok yang disebut ‘benih’ (Wini, bahasa Sabu). Di Sabu terdapat tujuh Wini untuk Bunga Besar dan tiga untuk Bunga Kecil. Di pulau kecil di Raijua terdapat sejumlah besar Wini. Di kedua pulau, Sabu dan Raijua, Pola yang serupa bisa memiliki nama yang berbeda sedangkan pola yang berbeda bisa memiliki nama yang sama.

Ada juga jenis sarung yang lain disebut èi worapi. Jenis ini memerlukan kecakapan teknis lebih lanjut dalam proses pewarnaan. Pita yang diikat pada motif-motif di sarung ini memperlihatkan empat warna: nila biru, merah, marun (hasil dari pencampuran berlebihan dari warna merah dan nila), dan putih, sebagai warna alami benang.

Pemelukan agama Kristen dimulai dari golongan berkuasa. Sangatlah mungkin kalau sarung èi worapi berasal dari istri-istri dan anak-anak perempuan para pejabat pemeluk baru agama Kristen ini. Para istri dan anak-anak perempuan mereka juga membuat pola baru seperti motif Patola yang berasal dari baju India dan pemakai terbatas pada rombongan pengiring para pejabat. Ada dua jenis motif Patola, satu untuk Bunga Besar dan satu untuk Bunga Kecil, sehingga akan terlihat jelas dari grup mana si pemakai sarung bermotif Patola ini.

* (Baca teks keseluruhan di Bunga Palem / Kain adati Sabu GenevieveDuggan.com. Untuk tekstil Raijua baca Budaya Perempuan / Female Culture di Raijua oleh Akiko Kagiya).

Kain tenun ikat tradisional Pulau Sabu yang paling terkenal adalah si hawu atau sarung sabu dan higi huri atau selimut. Masyarakat Sabu melakukan semua proses penenunan kain tenun tradisional Pulau Sabu ini seperti yang biasa dilakukan oleh masyarakat pada umumnya di Nusa Tengggara Timur.

Benang yang menjadi bahan dasar Kain Tenun Pulau Sabu itu direntangkan pada langa atau kayu perentang khusus yang digunakan untuk memudahkan mengikat benang sesuai dengan motif yang akan dibuat, setelah itu benang tersebut kemudian dilumuri dengan lilin. Setelah proses pelumuran lilin tadi kemudian dilakukan proses Pencelupan warna.


Proses pencelupan warna ini dilakukan dengan empat warna dasar yakni biru pekat, nila, merah dan hitam, ramuan untuk proses pencelupan warna kain tenun sabu menggunakan bahan pewarna alami yang bisa didapat dari dari mengkudu dan kuning dari kunyit. Motif yang dikenal dalam kain tenun tradisional Pulau sabu antara lain adalah motif flora dan fauna serta motif geometris. Setelah itu benang tersebut direntangkan kembali pada langamane atau alat tenun untuk memulai proses tenun. 0http://mysabuisland.blogspot.com)